Selasa, 24 April 2012
Jumat, 23 Maret 2012
REINTERPRETASI HADIS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN
REINTERPRETASI HADIS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN
Kehidupan umat Islam dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan, termasuk dalam persoalan nilai yang dijadikan ukuran standar. Akibatdari perubahan ini, terutama era ilmu pengetahuan dan tekhnologi saat sekarang, hampir segala sesuatu selalu dinilai dengan pertimbangan rasio atau akal. Oleh karena itu, banyak produk hukum Islam, termasuk dalam hal politik kenegaraan tidak bisa diterima begitu saja, karena tidak sesuai dengan pertimbangan akal sehat dan kebutuhan jaman.
Salah satu contoh dari
realitas di atas adalah kepemimpinan politik bagi perempuan. Hadis yang dijadikan landasan bagi ketidakbolehan kepemimpinan
politik bagi perempuan dipandang sudah tidak relevan lagi dengan perubahan
kondisi struktur sosial, ekonomi dan tekhnologi.
Menurut Jumhur ulama
bahwa syarat yang harus dipenuhi bagi seorang
khalifah (kepala negara) adalah harus
laki-laki. Hal tersebut didasarkan pada respon Rasulullah SAW ketika mendengar berita bahwa masyarakat
Persia telah memilih putri Kisra sebagai pemimpin.
Untuk lebih jelas
marilah kita melihat Hadis tentang
kepemimpinan wanita tersebut, namun terlebih dahulu kita melakukan takhrij
al-Hadith baru kalau sudah ketemu kemudian kita lanjutkan melakukan kritik
terhadap Hadis tersebut.
Bagi Anda yang sedang mendapatkan tugas mengenai hal tersebut, silahkan download filenya yang sudah berbentuk doc. sehingga sudah siap pakai. Namun sebelumnya, saya mohon maaf bahwa file tersebut terkunci oleh password. Cara mendapatkan password.
- Transfer Sedekah sebesar Rp. 25.000,-
- Tambahkan 3 Angka Unik diambil dari 3 Nomor terakhir HP anda, Misal: HP anda: 0812950123 maka Silakan Transfer Rp. 25.123,-
- Kirim Ke BCA : ac. 2160380287 an. Muhammad Thoyyib.
- SMS Konfirmasi dan Sertakan Judul makalahnya dan Nominal yang telah Anda kirim
- Untuk Konfirmasi SMS Ke HP.085233459627
- CONTOH: Reinterpretasi, 25.123
- Selahkan
Download
Kamis, 23 Februari 2012
Investasi Berbasis Emas
Dalam
dunia usaha, posisi sesaat tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan
trend-nya. Misalnya Anda punya warung sembako yang tahun 2011 lalu
omset-nya Rp 50 juta, Angka ini tidak bisa untuk menjelaskan kinerja
Anda apakah baik atau buruk. Angka ini baru berarti sesuatu bila
misalnya dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya. Bila tahun 2010
omset Anda Rp 25 juta, berarti kinerja Anda tahun 2011 meningkat luar
biasa 100 %. Sebaliknya bila tahun 2010 omset Anda sudah Rp 100 juta,
maka usaha Anda sedang mengalami sunset atau sedang tenggelam di tahun 2011. Maka demikian pulalah dalam melihat perkembangan harga emas.
Pada
akhir tahun 2011 lalu harga emas perdagangan London ditutup pada angka
US$ 1,531.00/Oz – ini tidak menjelaskan apa-apa bila tidak dilengkapi
dengan pembanding dari angka-angka tahun sebelumnya. Dari data di
Kitco.com misalnya Anda bisa tahu bahwa harga emas penutupan tahun
sebelumnya (2010) adalah US$ 1,405.50, dan penutupan lima tahun
sebelumnya (2007) adalah US$ 833.75. Jadi harga emas dunia akhir tahun
2011 sejatinya mengalami kenaikan sekitar 9 % dibanding tahun
sebelumnya, dan naik sekitar 84 % dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Dalam
rupiah angka-angka ini berbeda karena faktor kurs. Akhir 2011 harga
emas di pasar Indonesia sekitar Rp 500,000/gr, dibandingkan dengan akhir
tahun 2010 sekitar Rp 400,000/gr dan akhir 2007 sekitar Rp 250,000/gr.
Artinya di Indonesia harga emas telah mengalami kenaikan 25 % setahun
terakhir dan 100 % dalam lima tahun terakhir !.
Apa
makna angka-angka tersebut sesungguhnya ?, masyarakat harus melihat
emas ini dalam perspektif jangka panjang. Pemerintah China nampak-nya
melihat hal ini dengan baik sehingga bank sentralnya terus menambah
persediaan emasnya disamping juga mereka mendorong dan mempermudah rakyatnya rame-rame membeli emas.
Tidak
demikian halnya dengan negara-negara lain, dengan alasan-nya
sendiri-sendiri dan sebagian juga karena ketidak tahuannya –
negara-negara lain lebih condong mendorong rakyatnya mengakumulasi
kekayaan dalam uang kertasnya – mereka justru kawatir bila rakyatnya
terlalu banyak memegang emas maka mata uang kertas mereka akan jatuh.
Disinilah
sebenarnya pentingnya peran pemerintah, bank sentral dan dunia
per-bank-an untuk dapat melihat emas ini dari perpekstif jangka panjang
dan dari perspektif kepentingan masyarakat/rakyat-nya untuk bisa
bertahan - bila krisis mata uang seperti yang pernah kita alami tahun
1997/1998 berulang.
Sejak dua tahun lalu saya sebenarnya termasuk yang tidak setuju dengan akselerasi pembelian emas oleh masyarakat yang didanai dengan uang pinjaman atau gadai
- bila tidak didukung oleh proses penciptaan nilai tambah. Namun bila
kini direm mendadak sebenarnya juga tidak tepat, apalagi bila keputusan
pengereman-nya dilandasi dengan persepsi jangka pendek bahwa seolah
harga emas akan nyungsep.
Yang
harus dilakukan oleh pemerintah, bank sentral dan dunia perbankan
adalah meng-edukasi secara benar agar masyarakat tahu betul karakter dan
funsgi emas ini. Mereka harus mementingkan kemampuan masyarakat dalam
memutar ekonomi kemudian juga mampu mempertahankan kemakmurannya dengan
baik – di atas kepentingannya untuk menjaga nila mata uang kertas yang costly dan toh terbukti terus mengalami penurunan daya beli - sekuat apapun mereka berusaha mempertahankannya.
Fungsi semacam ini juga yang diemban oleh Gerai Dinar dalam skala Mikro, melalui tulisan dan melalui briefing
ke agen-agen baru kami selalu kami ingatkan bahwa membuat masyarakat
paham jauh lebih penting ketimbang membuat masyarakat membeli. Agen
tidak kami kenakan target penjualan karena memang bukan menjual emas
atau Dinar ini target utama kami – tetapi membuat masyarakat paham.
Maka
dari grafik harga suatu waktu dan harga DMA-50 kurang lebih kita bisa
memvisualisasikan sedang berada dimana bandul jam saat itu. Untuk Saat
ini kurang lebih kita berada di sekitar jam 6 karena harga emas lagi
berada di kisaran Rp 510,000/gram yang bersamaan dengan itu harga DMA-50
juga berada di kisaran harga ini.
Beberapa pekan terakhir ketika masyarakat investor emas dibuat
panik dengan investasi emasnya karena didorong oleh (wacana perubahan)
kebijakan di bank sentral dan dunia perbankan syariah – saat itu bandul
harga emas memang lagi berada di arah jam 6-7 ( berayun kebawah).
Waktu-waktu di mana garis biru berada dibawah garis ungu adalah waktu
bandul jam berada antara pukul 6-7 atau sebaliknya, dan ketika garis biru di atas garis ungu adalah ketika bandul jam berada antara pukul 6-5 atau sebaliknya.
Sebagaimana ayunan bandul jam yang bergerak cepat dengan
urutan 6-7-6-5-6-7-6-5 dst., maka posisi gerakan cepat ini sebenarnya
tidak perlu membuat panik siapapun apalagi kalau sampai menjadi dasar
suatu kebijakan.
Dasar
suatu kebijakan harus didukung oleh perspektif jangka panjang. Dari
grafik di atas misalnya, kita tahu bahwa dari waktu ke waktu memang
harga emas terus berayun – tetapi long term trend-nya jelas masih naik.
Meskipun demikian, betapa masuk akalnya sekalipun trend harga emas jangka panjang seperti yang pernah juga saya buat prediksi
matematisnya di tulisan sebelumnya- dimana berdasarkan formula trend
polynomial harga emas akan mencapai kisaran di atas Rp 1,000,000/gram
tahun 2015 (ketika anak Anda yang kelas 3 SMP sekarang sampai kelas 3 SMA !) – ini tetaplah prediksi, bisa benar dan bisa juga keliru.
Tidak
ada yang bisa melihat masa depan dengan 100% kebenaran, oleh karena
itulah masyarakat harus dibuat mengerti dahulu sebelum mereka membeli
atau berinvestasi di emas ini – mereka harus bisa melihat full picture-nya,
bukan antusiasme sesaat seperti ketika harga emas melonjak selama
Agustus – September 2011 lalu, dan bukan pula harus menjual karena kepanikan sesaat seperti yang terjadi antara November - Desember 2011 lalu. Wa Allahu ‘Alam.
Kamis, 16 Februari 2012
Mengukur Akhlaq
Salah satu bentuk
kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita hanya menggantungkan segala urusan
kepada Allah. Bagi orang yang mengenal Allah dengan baik, dan ia tidak
berharap banyak dari selain Allah, itulah salah satu kebahagiaan. Maka bagi
kita yang selama ini masih sangat ingin dihargai, masih sangat ingin dihormati,
masih sangat ingin dibedakan oleh orang lain, masih sangat ingin diberi ucapan
terima kasih ketika melakukan sesuatu untuk orang lain, atau masih sangat ingin
dipuji, maka sebenarnya makin tinggi kebutuhan kita akan penghargaan dari orang
lain, itulah yang akan menyempitkan hidup kita.
Barang siapa yang berhasil
lepas dari kebutuhan-kebutuhan semacam itu, dan kita sudah mulai bisa menikmati
indahnya memberikan senyuman kepada orang lain bukannya diberi senyuman, atau
merasakan nikmatnya bisa menyapa orang lain bukan menunggu disapa, nikmatnya
menyalami dan bukan menunggu disalami, semakin kita tidak berharap orang
berbuat sesuatu untuk kita, maka inilah fondasi kita dalam menikmati hidup ini.
Kenyataan yang ada di masyarakat kita dengan terjadinya beraneka kemunkaran,
kezhaliman dan kejahatan, itu disebabkan karena kita terlalu banyak berharap
kepada makhluk dan tidak kepada Allah.
Saudara-saudaraku yang
dimuliakan Allah, suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, "Ya Rasulullah,
mengapa engkau diutus ke bumi?" Maka jawaban Rasulullah sangat singkat
sekali, "Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan
kemuliaan akhlak." Menurut Imam Al Ghazali, “akhlak itu adalah respon
spontan terhadap suatu kejadian. Misalnya ketika kita ditimpa sesuatu baik yang
menyenangkan ataupun sebaliknya, respon terhadap kejadian itulah yang menjadi
alat ukur akhlak kita. Kalau respon spontan kita itu yang keluar adalah
kata-kata yang baik, mulia, berarti memang sudah dari dalamlah kemuliaan kita
itu. Tanpa harus dipikir banyak, tanpa harus direkayasa, sudah muncul kemuliaan
itu.
Sebaliknya kalau kita ditimpa
sesuatu pada diri kita, misalnya sandal kita hilang, atau ada orang yang
menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah
yang keluar dari mulut kita, maka respon spontan kita itulah yang akan
menunjukkan bagaimana akhlak kita.
Maka jika bertemu dengan
orang yang meminta sumbangan lalu kita berfikir keras diberi atau tidak. Kita
berfikir, kalau dikasih seribu, malu karena nama kita ditulis, kalau diberi
lima ribu nanti uang kita habis. Terus... berfikir keras hingga akhirnya kita
pun memberinya akan tetapi niatnya sudah bukan lagi karena karena Allah. Padahal
keinginan kita semula adalah untuk menolong. Kalau sudah demikian, sebetulnya
bukan akhlak dermawan yang muncul.
Saudara-saudaraku sekalian,
inilah yang menjadi masalah bagi peradaban kita. Kita mempunyai anak, dia
memiliki gelar yang bagus, sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tetapi
akhlaknya jelek, maka tidak ada artinya. Seorang pejabat yang bagus karirnya
akan tetapi akhlaknya, ...masya Allah, sudah punya isteri tetapi ia dikenal
berzina dengan perempuan lain, di kantor ia mengambil harta dengan cara tidak
halal, maka jatuhlah ia.
Sekarang ini krisis
terbesar kita adalah krisis akhlak. Oleh karena itu, saya sependapat dengan
seorang pengusaha terkenal dari Jepang yang mengatakan bahwa jikalau seseorang
ingin memimpin perusahaan dengan baik, maka sebetulnya skill atau
keahlian itu cukup 10% saja, yang 90% adalah akhlak. Karena akhlak yang baik,
orang yang cerdas pun mau bergabung denganya. Mereka merasa aman, merasa
tersejahterakan lahir batinnya. Akibatnya, berkumpulah para ahli. Kemudian
kepada mereka diberikan motivasi dengan akhlak yang baik maka jadilah sebuah
prestasi yang besar. Oleh karena itu sebenarnya kesuksesan itu adalah milik
orang yang berakhlak mulia.
Sekedar ilustrasi, suatu
saat sedang terjadi dialog antara suami dan isteri. Sang isteri menginginkan
anaknya menjadi bintang kelas, akan tetapi sang suami mengatakan bahwa bintang
kelas itu bukan alat ukur kesuksesan. Menjadi bintang kelas itu tidak harus,
tidak wajib. Yang wajib bagi anak itu adalah memiliki akhlak yang mulia. Apalah
artinya ia menjadi bintang kelas apabila kemudian ia jadi terbelenggu oleh
keinginan dipuji teman-temannya. Jadi dengki terhadap orang-orang yang pandai
dikelasnya, atau menjadi takabbur karena kepandaiannya itu. Apa artinya bintang
kelas seperti ini? Lebih baik lagi jika kita bangun mental anak kita lebih
bagus. Kalaupun suatu saat ia ditakdirkan menjadi bintang kelas, maka itu
adalah buah dari pemikirannya. Sementara itu ia pun sudah siap dengan
mentalnya, tidak dengki, tidak iri.
Nilai akhlaq ini tentunya jadi lebih bagus daripada nilai menjadi bintang kelasnya
tadi. Apalah artinya anak kita lulus jika kemudian menjadi jalan ujub dan takabbur.
Lulus itu hanyalah nilai atau angka-angka.
Saudara-saudara sekalian,
inilah yang sepatutnya menjadi bahan pemikiran kita. Kita berbicara seperti ini
adalah untuk memikirkan diri kita sendiri. Apakah saya ini berakhlak baik atau
tidak? Bagaimana cara melihatnya?Ya, lihat saja kalau kita mendapati masalah.
Bagaimana respon spontan kita? Bagaimana struktur kata-kata kita, raut wajah
kita? Apakah kita cukup temperamental? Apakah kata-kata kita keji? Itulah diri
kita. Kesuksesan dan kegagalan itu bergantung pada hal semacam ini. Bergantung
apa yang kita lakukan.
Demikian khutbah yang
singkat ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua khususnya anak-anak kita,
mudah-mudahan kita diberikan kesehatan dapat berjumpa kembali dengan Ramadlon
penuh hikmah, amin
Arti Salam Dalam Shalat
Ma'asyirol
Muslimin rahimakumullah ...
Pada
kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri pribadi dan jama’ah
semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena iman dan
taqwa adalah sebaik-baik bekal dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan untuk menuju akhirat kelak.
Ma'asyirol
Muslimin rahimakumullah ...
Satu-satunya ibadah
yang diwajibkan secara berulang-ulang dalam setiap hari adalah sholat.
Kewajiban sholat ini dibebankan terus menerus sampai meninggal dunia. Hal ini
menunjukkan betapa pentingnya sholat itu bagi umat manusia. Sehingga harus
dikerjakan berulang-ulang dalam setiap hari seumur hidup kita.
Diawal sholat setelah
takbirotul ihrom Yang berarti kita mengakui bahwa hanya Allah lah yang Maha
Besar, kemudian kita membaca do'a iftitah, (Wajjahtu Wajhiya Lilladzi
fathoros samawati wal Ardli) aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang
menciptakan langit dan bumi, Raja Maha Raja Diraja, Penguasa Dunia dan Akhirat.
(Hanifam Muslim) aku tunduk patuh padamu ya Allah, aku pasrah padamu ya
Allah, apapun yang Engkau perintahkan aku laksanakan dan apapun yang Engkau
larang aku tinggalkan. (wa Ma ana minal Musyrikin) dan saya
tidak menyekutukanMu.
Diakhir sholat kita
mengucapkan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri yang berarti menebarkan
keselamatan di sekeliling kita. Salam
tersebut untuk membuktikan tunduk patuh
dan pasrah kita kepada Allah. Inilah inti dari salam itu. Wahai tetanggaku
engkau adalah saudaraku, engkau selamat dari ucapanku, hartamu selamat dari
tanganku, tak kan kusakiti badanmu, tak kan ku lukai hatimu, mana mungkin aku
menyakitimu, engkau adalah saudaraku sendiri. Jika engkau sakit maka aku pun
juga merasakan sakit, jika bahagia maka aku pun juga merasakan kebahagiaan itu.
Aku tidak sakit hati padamu karena engkau adalah saudaraku sendiri. Bukankah
Rasulullah telah bersabda,"Seorang muslim dengan muslim lainnya bagaikan
satu tubuh".
Dalam al Qur’an
disebutkan bahwa kalau kita membicarakan keburukan orang ketika orang itu tidak
ada di depan kita, maka itu bagaikan kita memakan bangkainya. Diistilahkan
sebagai bangkai, karena orang bersangkutan tidak hadir bersama kita, sehingga
dia tidak bisa membela diri. Dia tidak bisa membantah bagaikan bangkai. Keras
sekali, perumpamaan yang dikemukakan Allah ini. Semua itu adalah peringatan
kepada kita agar selalu menumbuhkan pikiran yang baik kepada orang lain.
Memang, tidak ada
orang yang 100 % baik tanpa cacat sama sekali, demikian juga tidak ada orang
yang 100 % buruk tanpa kebaikan sama sekali. Kita harus adil sebagaimana Allah
adil kepada kita. Kita harus melakukan ihsan, sebagaiman Allah telah melakukan
ihsan kepada kita.
Sidang jum’ah yang
terhormat
Marilah kita merenung sejenak,
apakah selama ini kita sudah dapat mewujudkan salam kita tersebut, padahal kita
selalu megucapkannya di setiap akhir sholat. Atau belum ada getaran sama sekali
dari salam kita, sehingga sholat jalan terus akan tetapi mulut dan tangan kita
juga tiada henti menyakiti orang lain. Di sinilah pentingnya pengendalian diri,
untuk mendukung salam tersebut maka Allah mewajibkan puasa. Terhadap yang
halal pun tetap harus dikendalikan, apalagi terhadap yang haram. Agar kita
benar-benar dapat mewujudkan salam tersebut.
Takutlah pada hari
penghitungan amal kita. Kita sudah bangga dengan sholat dan puasa kita, akan
tetapi saat ditimbang ternyata semuanya tidak ada hitungannya. Kita pun menayakan
hal tersebut pada Allah, ya Allah mana bagian dari sholat dan puasaku ?.
Kemudian Allah menjawab," Wahai hambaku benar engkau telah sholat dan
sujud padaku, akan tetapi engkau tidak dapat membuktikannya padaku, engkau
tidak dapat menebarkan keselamatan itu, sholatmu palsu, sujudmu palsu, aku
tidak mau menerimanya, kalau engkau menanyakan bagian dari sholatmu maka
terimalah bagianmu ini (Fawailul lil Mushollin, alladzinahum an sholatihim
sahun). Neraka wail lah bagian untuk orang
yang sholat akan tetapi lalai dalam sholatnya.
Kemudian kita menanyakan
bagian dari puasa kita. Lalu Allah menjawab," Wahai hambaku, dengan sholat
yang engkau laksanakan 5 kali setiap hari selama hidupmu, hatimu tidak tergetar
untuk menebarkan keselamatan, apalagi dengan puasa yang hanya satu bulan, hati,
mulut dan tanganmu belum terkendalikan, maka terimalah bagian dari puasamu (Kam
min Shoimin laisa lahu Min shiyamihi, Illah Ju' wal 'Thsyi) Banyak orang
yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
Jangan lupakan juga
berbuat kebaikan meskipun sekedar menyingkirkan duri di tengah jalan. Saat kita
membungkukkan badan untuk menyingkirkan duri tersebut, kelihatannya memang
sederhana, akan tetapi dibalik itu ada hal yang sangat mendalam, yaitu kita mempunyai
perhatian kepada sesama manusia. Kita tidak ingin ada orang lain celaka, Janganlah
meremehkan suatu kebaikan, walaupun dianggap sangat kecil, bahkan sekalipun
sekedar tersenyum pada waktu bertemu seorang teman,
Rosulullah bersabda
dengan keras sekali,” Suatu saat Beliau berteriak: Demi Allah dia tidak
beriman, Demi Allah dia tidak beriman, Demi Allah dia tidak beriman.” (Para
Sahabat heran dan bertanya pada Nabi, Siapa dia wahai Nabi ?, Nabi menjawab,”
Yaitu orang yang tetangganya tidak terlindung dari keburukannya.
Sidang Jum’ah yang
duimuliakan Allah…
Marilah kita wujudkan ucapan
salam kita dengan berbagai amal sholeh,
salah satunya yang sebentar lagi kita laksanakan adalah ibadah puasa Tarwiyah
dan Arofah, dan berkurban. Pada hari itu seluruh masyarakat kita harus selamat
dari rasa lapar, karena mendapatkan daging kurban. Rasulullah SAW bersabda yang
artinya," Tidak beriman seseorang jika sampai membiarkan kucing
tetangganya mati kelaparan". Keras
dan tegas sekali hadis Rasulullah ini. Marilah bagi diantara kita yang mampu,
berkelebihan rizki, kita laksanakan ibadah kurban ini sebagai bukti salam kita
kepada Allah.
Sidang Jum’ah yang
duimuliakan Allah… marilah kita tundukkan kepala, kita mohon kepada Allah
dengan perasaan hati yang paling dalam, jujur, tulus kepada Allah.
Ya Allah hari ini kami
sadar, ijinkan kami untuk menghadapmu disetiap sholat kami. Kami tunduk patuh
padamu ya Allah. Apa pun yang Engkau perintahkan kami laksanakan, apa pun yang
Engkau larang kami tinggalkan ya Allah. Kami pasrah padamu ya Allah. Hidup ini
adalah milikmu, dan suatu saat Engkau pasti
mengambilnya kembali. Jika Engkau ingin mengambilnya maka ambillah ya Allah. Aku pasrah padamu. Ambillah ajalku saat aku sujud padamu ya Allah, saat kami sholat dengan khusu'. Sungguh sholat itu
terasa berat kecuali bagi orang-orang yang khusu' (Wa Innaha Lakabirotun
Illah alal Khosyi'in) . kami rindu
bertemu denganmu ya Allah dalam sholat kami, lindungilah kami dari godaan setan
yang Engkau kutuk, agar kami dapat melaksanakan sholat dengan khusu' dan
tuma'ninah. Terimalah kami ya Allah yang datang menghadapmu dengan membawa
dosa-dosa kami. Terima lah ya Allah. Amiin
Kamis, 02 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)